BERKAH BERUJUNG KUTUK

BERKAH BERUJUNG KUTUK

Asal mula padi menjadi kuning seperti terbakar.
Cerita ini terjadi disebuah desa yang bernama batu mardinding.

didalam kampung ini ada seorang janda, dimana janda ini sedang mengusahai tanah miliknya.
didalam mengerjakanya dia dengan sangat bersusah payah, seperti mulai ngimas, menebang kayu, sampai dengan membersihkan semua rumput dan kayunya.
setelah dia menebang kayunya, tibalah saatnya untuk bakar ladangnya. Tiba diladang, dia mencoba menbakarnya, tapi kayunya gak mau terbakar. dengan segala usahanya tetap juga gak mau terbakar. dan oleh karena itu dia sangat sedih, dan mulai menangis sambil mengumpul kayu kayu, dan juga rumput. hari-hari demi hari dilaluinya, tapi hasilnya tetep segitu gitu aja, seolah olah kayu dan rumputnya kembali ketempat dimana semula kayunya terbaring atuapun terletak.
dihari berikutnya dia pun pergi keladang dengan terus menangis, karena hasil kerjanya yg tak kunjung siap siap. diselah selah dia mengerjakan ladangnya, sambil menangis.
tiba tiba ada orang datang kepada dia, dimana yang datang ini sudah tua dan mengenakan baju yang sangat buruk, seperti juga peraawakannya sangatlah buruk.
jadi orang tua ini bertanya kepada ibu ynag sedang mengerjakan ladang tadi.

Orang tua        : kenapa ibu menangis dan apa yang ibu tangisi?
Ibu                   : bukankah bapak melihat apa yang sedang aku  lakukan?
Orang tua        : saya tidak mengerti, apa yang ibu maksuud.
Ibu                   : saya sudah lama mengerjakan ladang ku ini, dengan bermaksud membersihkan kayu, dan juga rumput disini tapi hasilnya tetap sigitu (sambil menunjuk hasil kerjanya yg kurang lebih seluas kamar tersebut)
Orang tua        : kalo begitu jemputlah benihmu, apa yang hendak engkau tanam disini, sekalian bawakan orang orang supaya ada yang menbantumu.
Ibu                   : bukankah bapak sudah lihat, bahwa ini belum siap?
Orang tua        : pulanglah daa ambillah benihmu.
Ibu                   : (dengan sangat kesal ) dasar orang gila, siapa yang mau nanan padi di hutan seperti ini! sambil melangkah mau meninggalkan orang tua tersebut.
Orang tua        : sebelum kamu sampai dirumah. ini sudah siap (maksudnya sudah bisa langsung ditanami)
Ibu                   : pak, saya seorang janda dan juga orang miskin, kenapa bapak mau membodoh-bodohi aku, apa untungnya sama bapak?
Orangtua         : percayalah saya tidak berbohong”. Dengan hati mendua, ibu itu pun pergi menuju jalan pulang, sambil bertantanya dalam hati, dengan hati yang penuh dengan penasaran, ibu itu pun masuk kesemak semak. mau melihat bapak itu karena mustahil apa yang dibilang bapak itu. Katanaya dalam hatinya. Sambil menyisihkan ranting semak semak betapa terkejutnya dia melihat yang terjadi pada saat itu'
Bapak itu berjalan menuju ujung ladang dimana yang dia tuju adalah tempat yang paling tinggi pas ditengah ladang tersebut. Sesampainya disana bapak ini menoleh kiri dan kanan, seolah olah memerhatikan apa ada orang yang melihat nya.
Tiba tiba dia mulai bekerja, dia mengangkat tangan sebelah kanan, kayu, rumput yang ada sebelah kanan ikut terangkat, setelah semua telah terangkat keatas dalam waktu sekejab, dia memhempaskan tangannya. Dan kayu rumput dan semua semak belukar yang ada diladang itu ikut terhempas kepinggir ladang itu dengan teratur.
dan dia menoleh sebelah kiri, sambil mengangkat tangan sebelah kiri, semua kayu kayu, rumput, semak belukar terangkat. Dan dia pun menhempaskannya kesebelah kiri. Dan semua kayu, rumput, semak belukar ikut terhempas dengan teratur. Dan semua dilakukan dalam waktu sekejab.
dengan terheran heran dan juga diberengi rasa takut, ibu itupun keluar dari semak-semak dengan sekuat tenaga yang dia miliki. Dia berlari menuju kampung dan pergi mengambil benih padi dan mengajak sekampung menbantunya serta membeberkan apa yang disaksikannya.
menarik perhatian dan hati yang ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya, orang sekampung pun berduyung-duyung pergi keladang ibu janda tersebut.
sesampainya diladang ibu janda itu, orang  sekampung melihat benar bahwa ladang tersebut sudah bersih dan siap untuk ditanami.
tampa basa basi orang sekampung pun mempersiapkan peralatan untuk menanan padi tersebut.
dalam waktu kurang lebih 4 jam atau setengah hari ladang nya telah siap ditanami.Orang itu pun berkumpul digubuk yang ada diladang itu,untuk makan siang. Dengan ala kadarnya orang sekampung itupun makan sampai kenyang
setelah semua kenyang dengan secara tiba-tiba orang tua itu pun berbicara,dimana mulai dari tadinya dia duduk didekat gubuk tersebut.
Orang tua        : IBU (dengan nada cemas, orang tua itupun memanggil ibu yang punya ladang tersebut)
Ibu                   : dengan rasa takut ibu itupun menjawab (ia pak ada apa?)
Orang tua        :  INGAT!!!!! “KALAU PADINYA NANTI SUDAH PANEN, JANGAN LUPA HARUS TETAP BERSABAR APAPUN YANG IBU AKAN PEROLEH AKAN HASILNYA, DAN PALING PENTING SEKALIPUN PANENNYA  TAK KUNJUNG  SIAP,  JANGAN DIBAKAR”
 Ibu                  :ia pak, saya akan mengingatnya.dan akan merawatnya dengan baik.
sambil berdiri orang tua itupun pergi meniggal kan tempat itu.
orang sekampung itupun semua tertunduk, karena mereka percaya bahwa orang tua tersebut, pembawa berkah. dan apapun yang diucapkan orang tua tersebut selalu benar-benar terjadi. saya pun tidak bisa menjelaskan secara detail tentang orang tua tersebut, ada orang bilang orang tua ini adalah suruhan raja batak, yaitu suruhan SISINGAMANGARAJA, ada orang bilang bahwa itu NAMARTUA TUA.  karena bukan ini pertamakalinya orang tua tersebut datang di kampung tersebut.
nanti akan kutuliskan juga mungkin dilaman lain cerita cerita nyata.
@ ASAL USUL SIHOBUK
@ BAKUL ISI EMAS
@ PINGGAN PUTIH DIBAYAR DENGAN EMAS
Berselang beberapa waktu padi itupun tumbuh dengan mekarnya, ibu itupun sangat senang mengurusnya. Mulai dari membersihkan rumput,menyemprot, pokoknya dilakukan dengan sukacita dimana sebelumya ibu itu, dengan susah payah mengolah ataupun mengerjakan lahan ladang tersebut.
 Singkat cerita, tibalah saatnya untuk panen dan itulah yang paling ditunggu-tunggu dalam cerita ini. Iakan???? Ia gak???   ia donk!!!!!!!!
 Dengan hati gembira dan sangat senang, ibu itu beranjak dari tempat tidurnya, lalu memasak untuk mempersiapkan bekal yang akan dibawah keladang. Dengan membawa bekal,karung yang banyak, dan juga ketam,dimana pada zaman itu orang masih menggunakan ketam untuk memanen padi. Cara kerjanya harus mengambil satu demi satu.
Dan ibu itupun bergegas untuk memulai panennya.satu demi satu ibu itu mengambil padinya, tampa dia sadari hari pun mulai gelap, ibu itupun dengan semangatnya sampai dia lupa untuk memakan bekal yang dibawah dari rumah. Dikarenakan hati yang senang yang penuh dengan sukacita tidak mengenal yang namanya lapar , atau panasnya terik matahari.
 Hari demi hari ibu itu mulai bingung dimana hasil panennya uda banyak, tapi ladangnya seperampat pun belum siap, seolah-olah padi yang sudah diambil tumbuh kembali setelah dia membelakanginya. Lupa akan janji yang diucapkan orang tua itu saat mau pergi, terlena kepada apa yang telah diperolehnya ITULAH KEHIDUPAN. Ibu ini pun uda mulai bosan. Sehingga ibu itupun mulai mencari orang untuk memanen padinya tersebut. Ada yang dibayar secara kerja harian dan ada juga yang bagi hasil.hampir setahun panennya pun tak kunjung siap. Anehnya walaupun setahun panennya belum siap-siap, padinya tetap segar dan seperti baru mulai panen,  ibu itu mulai bingung entah cara apa yang harus dia perbuat supaya cepat siap panen tersebut, karena merasa sudah berkecukupan oleh hasil yang begituh banyak.mengabil ini
Seperti hilang akal sehat ibu itu  mengambil inisiatip, disamping yang tidak ada hentinya bekerja, dan pekerjaannya pun itu-itu aja, panen panen dan panen.
  Suatu ketika hari yang begitu terik ,  ibu itu pergi keladang dan membawa minyak dan korek api, dia beriktiar untuk membakar padinya. lupa akan segalanya,mendengar apa yang dikatakan hatinya, hingga dia memutuskannya,dengan hati yang bulat dan tekab yang bulat. Ibu itu menhaburkan minyak yang ada ditangan kirinya, serta menyalakan korek api yang ada di kananya mempersatukannya. Dengan sigabnya api menyambar minyak, maka terbakarlah semua ladangnya, bisa dikatakan dalam sekejab mata.
Dan mulai hari itu, padi pun di tempat itu, bukan hanya disitu disekeliling kampung itupun mendapat akibat dari perilaku ibu tersebut. Diawal pertumbuhannya padinya bagus, dipertengahan umurnya daunnya mulai kuning sampai panenya, batangnya mulai busuk. Hasinya tidak begitu memuaskan.
Sekian akhir dari cerita ini,mudah-mudahan  sumber pengetahuan dan menjadi berkah buat kita semua. Bermanfaat buat kehidupan sehari-hari.



BERKAH BERUJUNG KUTUK BERKAH BERUJUNG KUTUK Reviewed by wisata indonesia on 6/14/2018 09:33:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar